Manusia lahir dari Sang Cahaya
Mendengar, melihat, berucap
Belajar,bekerja
Siapa kau wahai Icarus?
Orang sinting perajut bulu dengan lilin
Peluk saja sunyi gelap dalam jeruji labirin
Warna apa? Terik apa?
Empat kakiku dulu melangkah terseok
Hingga derapan dua kaki
Menghalau bulu putih domba agar tak dilahap serigala
Menjalin cinta dan pergi menghilang dimakan usia
Menjadi bahagia seperti bagaimana mestinya
Mengapa kau merasa berbeda, Icarus?
Atau kau memang ingin dibedakan?
Semua orang menatapmu melesat melawan sang dewa angin
Tak kau hiraukan jerit ratapan ayah dibawah
Memeluk mentari yang jadi impianmu bocah malang
Terlalu sombong impianmu, atau terlalu sombong mentari untukmu?
Melesat tubuhmu bermandikan peluh
Aegea..di tubuh laut kau terhantam
Pencari nafas laut hanya merasakan koyak kecil gelombang
Serpihan bulu terseret arus kegilaan
Obsesi impian tak ada gunanya
Menangis Icarus malang
Tinggalkan ayahnya di ambang penyesalan
Tak kau ubah bulu domba jadi emas, tongkat kayu jadi abu
dan roda takdir terus berputar
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Februari 2011
Rajutan Sayap : Icarus
Cahayamu adalah godaan bagiku
Terikmu adalah impian bagiku
Walau tak kau izinkan tetap akan ku ambil
Warnamu..panasmu..
Kurajut bulu dengan lilin
Tiap helai dengan tiap tetes
Gelap sunyi bukan halangan kalau mimpi bisa jadi kenyataan
Ribuan tahun mampu ku lewati asal bisa bebas dari labirin ini
Sayap terbentang, lihat aku mampu terbang!!
Biar orang berkata aku sinting tapi mereka tak bisa bersaing
Sebentar lagi kuraih kau kekasihku, sang mentari!
Mereka berteriak mengingatkanku jangan lupa diri
Apa salahnya meraih mimpi?
Ku peluk mentari..impianku dulu dari balik jeruji
Peluh lilin membakar kulitku
Aku jatuh..melesat kencang ke laut biru
Sayapku berantakan..bulu-bulu berterbangan
Biar semua orang mengatakan aku sinting
Tapi aku bisa memeluk mentari
Aku mati tapi aku tidak menangis
Aku jatuh tersenyum..sudah kudapatkan kekasihku!
Biar semua orang mengatakan aku sinting
Tapi mereka mengingat namaku
ICARUS..sang Manusia Terbang.
Terikmu adalah impian bagiku
Walau tak kau izinkan tetap akan ku ambil
Warnamu..panasmu..
Kurajut bulu dengan lilin
Tiap helai dengan tiap tetes
Gelap sunyi bukan halangan kalau mimpi bisa jadi kenyataan
Ribuan tahun mampu ku lewati asal bisa bebas dari labirin ini
Sayap terbentang, lihat aku mampu terbang!!
Biar orang berkata aku sinting tapi mereka tak bisa bersaing
Sebentar lagi kuraih kau kekasihku, sang mentari!
Mereka berteriak mengingatkanku jangan lupa diri
Apa salahnya meraih mimpi?
Ku peluk mentari..impianku dulu dari balik jeruji
Peluh lilin membakar kulitku
Aku jatuh..melesat kencang ke laut biru
Sayapku berantakan..bulu-bulu berterbangan
Biar semua orang mengatakan aku sinting
Tapi aku bisa memeluk mentari
Aku mati tapi aku tidak menangis
Aku jatuh tersenyum..sudah kudapatkan kekasihku!
Biar semua orang mengatakan aku sinting
Tapi mereka mengingat namaku
ICARUS..sang Manusia Terbang.
Rabu, 05 Januari 2011
Molly dan Serigala Baik Hati
Molly adalah anak yang manis, dia tinggal dengan ibunya dipinggir desa. Pada suatu hari ibunya mendengar kabar kalau nenek sedang sakit. Molly ingin sekali menjenguk neneknya, namun ibunya melarang karena rumah nenek berada jauh diseberang hutan. Di dalam hutan sana banyak sekali hewan liar yang bisa saja menyerang anak kecil seperti Molly, butuh orang dewasa yang menemani saat melakukan perjalanan di hutan. Molly sangat ingin menemui neneknya, tapi ibu baru bisa menjenguk tiga hari lagi karena beliau harus membantu ayah memanen jeruk di kebun yang sangat luas.
Dalam hati Molly berkata "umurku sudah 8 tahun, aku sudah cukup besar untuk berjalan sendiri di hutan", setelah berkata demikian pada dirinya sendiri Molly bergegas menyiapkan bekal berupa sepotong roti lapis daging dan susu segar.
Setelah beres semua, keesokan paginya saat matahari baru menampakan sedikit jambulnya, Molly berangkat tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu.
"Hutan tidak begitu menyeramkan", kata Molly saat melangkahkan kaki mungilnya di mulut hutan. Anginnya sangat sejuk, suara gesekan ranting membuat suara merdu yang menentramkan hati. Molly berlari-lari kecil saat berkejaran dengan burung pipit yang terbang rendah. Dalam hati Molly merasa dibohongi oleh orang dewasa yang suka membesar besarkan ketakutan mereka.
Semakin masuk kedalam hutan cahaya sang surya semakin menipis, padahal sekarang sudah siang hari. Molly mulai melangkah hati-hati dan tanpa suara. Dagdigdugdagdigdug..rasanya dia bisa mendengar degup jantungnya sendiri saking takutnya. Tidak! orang dewasa tidak bohong! hutan memang menyeramkan! semakin masuk kedalam semakin gelap.
SRREEKK!! Terdengar suara aneh dari belakang Molly "Siapa itu??!" teriak Molly kaget. Saking takutnya Molly berlari kencang sekali, namun suara aneh tersebut makin cepat mengejarnya. Karena tidak memperhatikan jalan Molly terjatuh, isi dalam keranjang makanan yang dibawa Molly berantakan. Munculah sesosok mahluk berwarna orange kecoklatan. Rubah! Molly takut sekali. Rubah itu semakin mendekat dan mendekat, lalu mengendus Molly yang sudah mulai terisak, mundur perlahan dan mengambil kotak susu Molly. Molly kaget lalu melihat Rubah itu dengan seksama, ternyata ada tiga anak Rubah yang langsung menggigit kotak tersebut. Molly tidak banyak bicara, lalu pergi perlahan lahan takut mengusik Rubah itu lagi.
Masih berdebar kencang dada Molly saat dia berjalan lebih dalam lagi ke hutan. Kuuu Kuuu Kuuuu..Molly kaget lagi. Suara burung hantu itu begitu keras tapi sosoknya tidak kelihatan. Hingga tiba-tiba ada sesosok yang menyambar keranjang makanan Molly yang terbuka lalu melesat pergi. Molly menjerit ketakutan. Tapi dia sadar bahwa bahaya sudah pergi. Setelah dicek keranjangnya ternyata burung hantu itu mengambil roti lapis dagingnya.
Molly mulai menangis sesenggukan karena takut. Dan dia mendengar ada suara SRREEEKKK! lagi. Karena sudah menahan nahan takut dari tadi bukannya dia diam tetapi malah menangis semakin keras. "Huuuuwwwwwwwaaaaaaa!!!!!!!!hhuuuwwwwwaaaaaa!!!ibbbuuu~ neneeeekk!!!" tangis Molly."Sssssstttt sssttttt jangan menangiss gadis kecil" kata suara itu. Saat dia menampakan dirinya ternyata adalah seekor serigala!
"Jangan menangis yaa..kenapa kamu ada di hutan yang gelap begini?" tanyanya ramah
"aku..iks iks..aku ingin kerumah..iks..nenek" kata Molly sambil sesenggukan
"Nenek? Nenek yang tinggal didekat hutan?"
"Iya..iks..kamu tau?"
"Iya..aku tau.."
"Bisa kau antar..iks..aku?" pinta Molly
"hhhmmmm...Aku..."
"HUUUUUUWWAA~ Jangan jangan kamu sudah memakannya!!" teriak Molly
"Aku belum selesai bicara gadis kecil!"kata serigala jengkel,"serigala memakan nenek itu cerita jaman dulu!" lanjutnya lagi, "Mari aku antar" katanya.
Kaki Molly terluka membuat dia susah berjalan jadi Serigala abu-abu menggendongnya. Pejalanan cukup jaun, namun bisa terasa cepat karena lari serigala sangat cepat.
Begitu sampai ditempat nenek, nenek sedang duduk diterasnnya "Ahh..kau lagi serigala..bukanya baru saja pulang? apa ada yang ketinggalan?" tanya nenek
"Tidak nek, aku tadi juga sudah setengah jalan. Lalu aku bertemu dengan dia" kata Serigala sambil menurunkan Molly.
"NENEEEEEKKK!!" Teriak Molly
"Molly?!" Nenek kaget sekali karena tiba-tiba Molly turun dari punggung Serigala dan memeluknya.
"Aku menemukannya di tengah hutan, kakinya terluka dan dia menangis, aku tidak tega meninggalkannya sendirian" kata Serigala menjalaskan.
"Untung saja kamu bertemu dengan Serigala abu-abu, dia sering main kesini dan membantuku menyiapkan kayu bakar" kata nenek,"Ayo masuk..kamu juga Serigala, sudah hampir malam.."lanjutnya.
Didalam rumah Molly diberi tudung berwarna merah cerah, bila suatu saat Molly tersesat di hutan Serigala gampang menemukannya dan mengantarkan dia ke rumah Nenek.
Mulai saat itu Molly di jukuli Si Tudung Merah karena sering pergi ke hutan dengan menggunakan tudung merahnya. Molly tidak takut lagi berjalan di hutan karena sekarang dia ditemani Serigala yang baik hati.
~FIN~
Sirkus Keliling
Dalam hati Molly berkata "umurku sudah 8 tahun, aku sudah cukup besar untuk berjalan sendiri di hutan", setelah berkata demikian pada dirinya sendiri Molly bergegas menyiapkan bekal berupa sepotong roti lapis daging dan susu segar.
Setelah beres semua, keesokan paginya saat matahari baru menampakan sedikit jambulnya, Molly berangkat tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu.
"Hutan tidak begitu menyeramkan", kata Molly saat melangkahkan kaki mungilnya di mulut hutan. Anginnya sangat sejuk, suara gesekan ranting membuat suara merdu yang menentramkan hati. Molly berlari-lari kecil saat berkejaran dengan burung pipit yang terbang rendah. Dalam hati Molly merasa dibohongi oleh orang dewasa yang suka membesar besarkan ketakutan mereka.
Semakin masuk kedalam hutan cahaya sang surya semakin menipis, padahal sekarang sudah siang hari. Molly mulai melangkah hati-hati dan tanpa suara. Dagdigdugdagdigdug..rasanya dia bisa mendengar degup jantungnya sendiri saking takutnya. Tidak! orang dewasa tidak bohong! hutan memang menyeramkan! semakin masuk kedalam semakin gelap.
SRREEKK!! Terdengar suara aneh dari belakang Molly "Siapa itu??!" teriak Molly kaget. Saking takutnya Molly berlari kencang sekali, namun suara aneh tersebut makin cepat mengejarnya. Karena tidak memperhatikan jalan Molly terjatuh, isi dalam keranjang makanan yang dibawa Molly berantakan. Munculah sesosok mahluk berwarna orange kecoklatan. Rubah! Molly takut sekali. Rubah itu semakin mendekat dan mendekat, lalu mengendus Molly yang sudah mulai terisak, mundur perlahan dan mengambil kotak susu Molly. Molly kaget lalu melihat Rubah itu dengan seksama, ternyata ada tiga anak Rubah yang langsung menggigit kotak tersebut. Molly tidak banyak bicara, lalu pergi perlahan lahan takut mengusik Rubah itu lagi.
Masih berdebar kencang dada Molly saat dia berjalan lebih dalam lagi ke hutan. Kuuu Kuuu Kuuuu..Molly kaget lagi. Suara burung hantu itu begitu keras tapi sosoknya tidak kelihatan. Hingga tiba-tiba ada sesosok yang menyambar keranjang makanan Molly yang terbuka lalu melesat pergi. Molly menjerit ketakutan. Tapi dia sadar bahwa bahaya sudah pergi. Setelah dicek keranjangnya ternyata burung hantu itu mengambil roti lapis dagingnya.
Molly mulai menangis sesenggukan karena takut. Dan dia mendengar ada suara SRREEEKKK! lagi. Karena sudah menahan nahan takut dari tadi bukannya dia diam tetapi malah menangis semakin keras. "Huuuuwwwwwwwaaaaaaa!!!!!!!!hhuuuwwwwwaaaaaa!!!ibbbuuu~ neneeeekk!!!" tangis Molly."Sssssstttt sssttttt jangan menangiss gadis kecil" kata suara itu. Saat dia menampakan dirinya ternyata adalah seekor serigala!"Jangan menangis yaa..kenapa kamu ada di hutan yang gelap begini?" tanyanya ramah
"aku..iks iks..aku ingin kerumah..iks..nenek" kata Molly sambil sesenggukan
"Nenek? Nenek yang tinggal didekat hutan?"
"Iya..iks..kamu tau?"
"Iya..aku tau.."
"Bisa kau antar..iks..aku?" pinta Molly
"hhhmmmm...Aku..."
"HUUUUUUWWAA~ Jangan jangan kamu sudah memakannya!!" teriak Molly
"Aku belum selesai bicara gadis kecil!"kata serigala jengkel,"serigala memakan nenek itu cerita jaman dulu!" lanjutnya lagi, "Mari aku antar" katanya.
Kaki Molly terluka membuat dia susah berjalan jadi Serigala abu-abu menggendongnya. Pejalanan cukup jaun, namun bisa terasa cepat karena lari serigala sangat cepat.
Begitu sampai ditempat nenek, nenek sedang duduk diterasnnya "Ahh..kau lagi serigala..bukanya baru saja pulang? apa ada yang ketinggalan?" tanya nenek
"Tidak nek, aku tadi juga sudah setengah jalan. Lalu aku bertemu dengan dia" kata Serigala sambil menurunkan Molly.
"NENEEEEEKKK!!" Teriak Molly
"Molly?!" Nenek kaget sekali karena tiba-tiba Molly turun dari punggung Serigala dan memeluknya.
"Aku menemukannya di tengah hutan, kakinya terluka dan dia menangis, aku tidak tega meninggalkannya sendirian" kata Serigala menjalaskan.
"Untung saja kamu bertemu dengan Serigala abu-abu, dia sering main kesini dan membantuku menyiapkan kayu bakar" kata nenek,"Ayo masuk..kamu juga Serigala, sudah hampir malam.."lanjutnya.
Didalam rumah Molly diberi tudung berwarna merah cerah, bila suatu saat Molly tersesat di hutan Serigala gampang menemukannya dan mengantarkan dia ke rumah Nenek.
Mulai saat itu Molly di jukuli Si Tudung Merah karena sering pergi ke hutan dengan menggunakan tudung merahnya. Molly tidak takut lagi berjalan di hutan karena sekarang dia ditemani Serigala yang baik hati.
~FIN~
Sirkus Keliling
Langganan:
Postingan (Atom)

