Seperti malam biasa kamu mengajakku pergi ke kedai kopi ketika senggang.
Dan aku selalu meng-iya-kan. Buat aku, kemana saja itu tidak masalah.
Di kedai kopi, seperti biasa, kamu duduk bersebrangan denganku.
Mungkin hanya kita pasangan yang duduk seperti ini, lainnya duduk bersebelahan.
Jangankan untuk menyenderkan kepala di pundakmu, untuk menyentuhmu saja aku harus susah payah.
Seperti biasa pula aku memilih diam, memperhatikan sekitar lalu melamun.
Sampai kamu sadar aku diam saja, kamu hanya menatapku sekilas lalu kembali menikmati kopi dan sketsamu.
Aku mulai jenuh, ku keluarkan semua kertas putihku.
Goresan demi goresan, tapi aku tidak tau apa yang harus aku gambarkan.
Di sudut kepalaku ada suara kecil menyuruhku untuk menggambar "dia",dia yang ada di depanku.
Ku ikuti goresannya, koma-inu..anjing setengah singa penjaga kuil jepang. Ahh..tidak menarik.
Aku menarik kertas lainnya. Teratai..out line sudah terbentuk..tapi lagi-lagi aku belum bisa menggambarkan-mu
Aku mengambil kertas di tumpukan paling bawah. Tak lagi menggunakan pensil, aku menggunakan bolpen sekarang.
Aku mencoba membayangkan bunga, tidak ada yang bisa tertuang di kertas.
Aku ganti gambaran bunga jadi kucing, hewan yang sama-sama kita sukai. Tidak bisa
Aku ganti lagi gambaran di otaku, bunglon. Tidak bisa juga.
Tiba-tiba aku teringat goresan klasik yang bisa di lakukan semua orang untuk menggambarkan suka. Hati.
Tidak, bukan hati yang ingin aku gambarkan sekarang.
Tanganku mulai bekerja lagi, sedikit mengejutkanku..payung. Aku menggambar payung.
Dia bereaksi setelah lama terdiam"Payung?" katanya, aku hanya tersenyum.
Aku lanjutkan menggambar..Seseorang membawa payung, dan seorang lagi berlari.
Ya, aku selesaikan sketsa itu. Dengan bolpen, dan dengan kamu yang akhirnya memperhatikanku.
Payung. Kamu yang membawa payung itu. Dan aku yang berlari.
Aku ingat kata-katamu ketika kita bertengkar kemarin
"Aku ada buat kamu waktu kamu butuh, bukan waktu kamu pengen"
Tampilkan postingan dengan label ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ringan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 September 2011
Kamis, 24 Februari 2011
Si Belang dan Bola Kuning
Si Belang memiliki mainan baru, sebuah bola yang bisa memantul dan ada bintik-bintik kuning disekitarnya. Belang memainkannya setiap waktu, waktu bangun tidur, sarapan, makan siang, bermain di taman, makan malam hingga sebelum tidur. Suatu sore dia bermain di kebun belakang dengan bola kesayangannya.
Semakin kencang dia melemparkannya ke tanah, semakin tinggi pula bola itu memantul ke udara. Saking senangnya dia memantulkan bola keras-keras hingga memantul tinggi sekali sampai keluar pagar rumah. Si Belang mengejarnya. Bola kuningnya tidak terlihat, "mungkin masuk ke kebun" pikirnya. Si Belang mulai memasuki kebun, bola kuning belum ketemu juga, semakin lama semakin dia memasuki kebun. Matahari mulai condong ke arah barat, warnanya mulai berubah menjadi orange kemerahan. Bola kuning belum juga ketemu.
Belang mulai frustasi "ah! hilang juga tidak apa-apa, nanti juga dibelikan lagi sama Ayah" katanya dalam hati. Cahaya matahari yang mulai redup membuat suasana kebun yang rindang semakin menakutkan. Belang mulai panik, dia berlari kesana kemari berharap menemukan jalan pulang. Tapi apa daya kebun yang rindang sudah gelap gulita, bahkan dia tidak bisa melihat telapak kakinya sendiri. Belang mulai berteriak "Ayyaaahhh!! Ibuuu!! Ayyyaaahhh!! Ibbuuu!!" namun tidak ada yang menjawab.
Belang mulai terisak, dia mencari perlindungan di pohon terdekat. Sambil duduk jongkok dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Huhuhuhuhuhuuu bagaimana aku bisa pulang?". Tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu, Belang terperanjat dan lompat menjauh, ternyata itu bola kuning. Dia senang bisa menemukan bola kesayangannya, tapi dia belum bisa pulang.
Dari kejauhan muncul kilatan-kilatan cahaya. "Belaangg..Bellanngg" teriak suara itu. Belang kenal suaranya..itu Ayah dan Ibu!! Belang langsung berlari menghampiri cahaya tersebut dan langsung memeluk Ayahnya. "Aku tersesaaatt" kata Belang sambil terbata-bata. "Sudah..sudah, jangan menangis lagi, ayo sekarang pulang"
Begitu sampai rumah, Belang langsung mandi tidak lupa dia membersihkan tanah yang menempel pada bola kuning. Ibu sudah menyiapkan makan malam yang enak, ada ayam bakar dan susu hangat kesukaan Belang. Dalam hati Belang berjanji tidak akan menyusahkan kedua orang tuannya lagi, dan juga tidak akan melemparkan bola kuning keras-keras agar tidak hilang.
~FIN~
Sirkus Keliling
Semakin kencang dia melemparkannya ke tanah, semakin tinggi pula bola itu memantul ke udara. Saking senangnya dia memantulkan bola keras-keras hingga memantul tinggi sekali sampai keluar pagar rumah. Si Belang mengejarnya. Bola kuningnya tidak terlihat, "mungkin masuk ke kebun" pikirnya. Si Belang mulai memasuki kebun, bola kuning belum ketemu juga, semakin lama semakin dia memasuki kebun. Matahari mulai condong ke arah barat, warnanya mulai berubah menjadi orange kemerahan. Bola kuning belum juga ketemu.Belang mulai frustasi "ah! hilang juga tidak apa-apa, nanti juga dibelikan lagi sama Ayah" katanya dalam hati. Cahaya matahari yang mulai redup membuat suasana kebun yang rindang semakin menakutkan. Belang mulai panik, dia berlari kesana kemari berharap menemukan jalan pulang. Tapi apa daya kebun yang rindang sudah gelap gulita, bahkan dia tidak bisa melihat telapak kakinya sendiri. Belang mulai berteriak "Ayyaaahhh!! Ibuuu!! Ayyyaaahhh!! Ibbuuu!!" namun tidak ada yang menjawab.
Belang mulai terisak, dia mencari perlindungan di pohon terdekat. Sambil duduk jongkok dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Huhuhuhuhuhuuu bagaimana aku bisa pulang?". Tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu, Belang terperanjat dan lompat menjauh, ternyata itu bola kuning. Dia senang bisa menemukan bola kesayangannya, tapi dia belum bisa pulang.
Dari kejauhan muncul kilatan-kilatan cahaya. "Belaangg..Bellanngg" teriak suara itu. Belang kenal suaranya..itu Ayah dan Ibu!! Belang langsung berlari menghampiri cahaya tersebut dan langsung memeluk Ayahnya. "Aku tersesaaatt" kata Belang sambil terbata-bata. "Sudah..sudah, jangan menangis lagi, ayo sekarang pulang"
Begitu sampai rumah, Belang langsung mandi tidak lupa dia membersihkan tanah yang menempel pada bola kuning. Ibu sudah menyiapkan makan malam yang enak, ada ayam bakar dan susu hangat kesukaan Belang. Dalam hati Belang berjanji tidak akan menyusahkan kedua orang tuannya lagi, dan juga tidak akan melemparkan bola kuning keras-keras agar tidak hilang.
~FIN~
Sirkus Keliling
Langganan:
Postingan (Atom)